Babad Veteran II No. 7C: Dari Rahim Intelijen Kolonial ke Jantung Media Siber

Dengarkan Berita

BIKASMEDIA.COM, JAKARTA- Di tengah deru mesin Jakarta yang tak pernah tidur, berdiri tegak sebuah monumen bisu di Jalan Veteran II No. 7C. Gedung ini bukan sekadar susunan bata dan semen; ia adalah palimpsest sejarah sebuah naskah tua yang terus ditimpa tulisan baru, menyimpan lapisan darah, intrik politik, dan kini: kemerdekaan informasi.

Jauh sebelum dikenal sebagai kantor SMSI, gedung ini adalah jantung dari rasa takut. Di sinilah Marsose, polisi rahasia Hindia Belanda, menenun jaring intelijennya. Dinding-dinding tebal ini pernah menjadi saksi bisu bagaimana pergerakan pribumi dipantau, disusupi, dan dibungkam.

Ironisnya, tak jauh dari lokasi ini, sejarah mencatat keruntuhan sang tiran: Jan Pieterszoon Coen. Gubernur Jenderal VOC yang jemawa itu menemui ajalnya di tanah yang ia jajah, membuktikan bahwa seketat apa pun pengawasan di Veteran II, api perlawanan rakyat tak pernah benar-benar padam.

Sejarah tak pernah linier. Pasca-kemerdekaan 1945, gedung ini beralih rupa menjadi dapur ideologi yang panas. Di bawah komando D.N. Aidit, gedung ini bertransformasi menjadi markas CC PKI.

Lantai-lantai yang dulunya diinjak sepatu lars kolonial, berganti menjadi ruang rapat rahasia yang merancang arah politik bangsa. Dari sini, jejak-jejak peristiwa besar seperti Madiun 1948 hingga prahara G30S 1965 bermuara. Gedung ini sempat menjadi titik nol dari salah satu fragmen paling kelam dalam perjalanan Republik.

Badai 1965 mengubah segalanya. Gedung ini jatuh ke tangan militer, berpindah dari Kodam III/Siliwangi ke Kodam Jaya di bawah kendali Amir Machmud pada 1966. Namun, takdir gedung ini bukan untuk menjadi barak permanen.

Gubernur legendaris DKI Jakarta, Ali Sadikin, mengambil alih kemudi dan membuat keputusan visioner. Ia menyerahkan kunci gedung ini kepada Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang saat itu dipimpin oleh Harmoko. Inilah momentum titik balik: dari pusat instruksi militer menjadi rahim bagi narasi publik.

Gedung ini menolak renta. Setelah lama menjadi rumah bagi PWI di masa Margiono, estafet pengelolaan kini mendarat di tangan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) di bawah kepemimpinan Firdaus.

Dulu: Tempat menyembunyikan kebenaran (Intelijen Belanda).
Lalu: Tempat memaksakan ideologi tunggal (CC PKI).
Sekarang: Tempat menyebarkan keberagaman informasi (SMSI).

Bagi SMSI, Jalan Veteran II No. 7C bukan sekadar koordinat GPS. Ia adalah sebuah Babad. Ia mengajarkan bahwa kekuasaan bisa runtuh dan ideologi bisa berganti, namun semangat untuk mencatat sejarah—melalui jurnalisme—adalah satu-satunya yang abadi.

Hari ini, di mana dulu bisik-bisik konspirasi bergema, kini suara ketikan keyboard para insan pers menggantikannya. Memastikan bahwa di gedung tua ini, kegelapan masa lalu telah diubah menjadi cahaya informasi bagi masa depan Indonesia.

Penulis: Novrizal R. Topa (Wartawan Senior)Editor: Redaksi
error: Content is protected !!