BIKASMEDIA.COM, KONAWE SELATAN – Di tengah gempuran budaya asing yang kian tak terkendali, Anggota DPRD Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Binmas Mangidi, melakukan langkah berani untuk membentengi identitas daerah. Ia meresmikan Sanggar Seni Sekar Budoyo di Desa Silea Jaya, Kecamatan Buke, sebagai markas perlawanan terhadap pudarnya kesenian tradisional Kuda Lumping. Rabu, 31 Desember 2025.
Peresmian ini bukan sekadar seremoni pukul gong. Binmas Mangidi menegaskan bahwa pendirian sanggar ini adalah pesan keras bagi semua pihak agar tidak melupakan akar sejarah. Ia memposisikan seni budaya sebagai instrumen vital dalam menjaga stabilitas dan persatuan sosial di Konsel khususnya Kecamatan Buke.
“Seni Kuda Lumping bukan sekadar tontonan, ini adalah warisan leluhur yang harus kita jaga dengan kuku dan gigi! Melalui Sanggar Sekar Budoyo, kita sedang membangun benteng persatuan. Siapa pun yang mencoba memecah belah warga, akan berhadapan dengan solidaritas budaya yang kita bangun di sini,” tegas legislator vokal asal Konawe Selatan tersebut.
Binmas Mangidi menyoroti pentingnya regenerasi. Ia tidak ingin seni tradisional hanya menjadi kenangan di buku sejarah. Baginya, Sanggar Sekar Budoyo harus menjadi kawah candradimuka bagi pemuda Desa Silea Jaya untuk menempa kreativitas sekaligus mencintai identitas mereka sendiri.
Ia juga menantang desa-desa lain di Kecamatan Buke untuk segera bangkit dan menghidupkan kembali kesenian lokal mereka.
“Saya tidak ingin ini hanya jadi simbol mati. Saya ingin melihat pemuda kita lebih bangga memegang pecut Kuda Lumping daripada terjebak dalam arus modernisasi yang negatif. Desa lain harus melihat Silea Jaya sebagai contoh—hidupkan kembali budaya kalian atau kita akan kehilangan jati diri di tanah sendiri!” serunya di hadapan ratusan warga.
Meski peresmian berlangsung meriah dengan atraksi magis Kuda Lumping yang digelar pada malam pergantian tahun, di balik itu tersimpan tantangan besar. Ketua Sanggar Sekar Budoyo, Sunarto, mengungkapkan bahwa perjuangan melestarikan budaya ini membutuhkan lebih dari sekadar dukungan moral.
Sunarto yang telah merintis gerakan ini sejak 2024, secara blak-blakan meminta komitmen nyata dari pemerintah daerah untuk menyokong operasional sanggar yang kini menaungi sekitar 40 anggota.
“Kami bergerak dari nol swadaya demi budaya. Tapi semangat saja tidak cukup. Kami punya 40 orang yang siap bertarung menjaga tradisi ini, tapi kami butuh dukungan konkret berupa perlengkapan dan fasilitas. Jangan biarkan semangat kami padam karena kurangnya perhatian pemerintah,” tantang Sunarto.

Peresmian ini mempertegas posisi Binmas Mangidi sebagai wakil rakyat yang tidak hanya berkutat pada isu infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga petarung bagi penguatan nilai kebudayaan. Di bawah komitmennya, “Tanah Konawe Selatan” diharapkan tetap harmonis namun memiliki karakter yang kuat dan tak tergoyahkan.









