BIKASMEDIA.COM, KONAWE SELATAN – Peringatan Malam Nuzulul Qur’an pada bulan suci Ramadan bukan sekadar seremoni keagamaan tahunan. Peristiwa turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW menjadi momentum spiritual yang mengandung pesan besar bagi pembangunan peradaban, termasuk dalam membangun daerah yang sehat, cerdas, dan sejahtera (SETARA).
Di Kabupaten Konawe Selatan, nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dinilai sangat relevan dengan visi pembangunan daerah yang dikenal dengan konsep Konsel SETARA yakni pembangunan daerah yang Sehat, Cerdas, dan Sejahtera.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Konawe Selatan, Saiful Akbar Kalenggo, SH., MH, menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an harus dimaknai sebagai momentum memperkuat pendidikan karakter dan adab, terutama bagi generasi muda.
“Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia. Maka memperingati Nuzulul Qur’an bukan hanya mengenang sejarah turunnya wahyu, tetapi juga momentum untuk menguatkan karakter masyarakat yang berilmu, beradab, dan beriman. Inilah fondasi penting dalam mewujudkan Konawe Selatan yang SETARA,” ujar Saiful Akbar Kalenggo.
Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an tentang turunnya kitab suci sebagai petunjuk bagi manusia. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 disebutkan:

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan hanya kitab ibadah, tetapi juga pedoman dalam membangun peradaban yang berkeadaban, berilmu, dan bermoral.
Saiful Akbar Kalenggo menjelaskan bahwa pembangunan daerah tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik semata, tetapi juga pada kualitas manusia yang memiliki karakter kuat.
“Pembangunan daerah tidak cukup hanya dengan infrastruktur. Kita membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki akhlak, integritas, dan kecerdasan. Nilai-nilai Al-Qur’an harus menjadi inspirasi dalam membangun generasi yang cerdas sekaligus beradab,” katanya.
Bulan Ramadan sendiri menjadi momentum pendidikan karakter bagi umat Islam. Ibadah puasa melatih manusia untuk mengendalikan diri, meningkatkan empati sosial, serta memperkuat kejujuran dan tanggung jawab.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang berpuasa Ramadan dengan penuh iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi latihan spiritual dan emosional yang membentuk kepribadian manusia yang lebih matang.
Menurut Saiful Akbar Kalenggo, pendidikan karakter yang lahir dari nilai-nilai Ramadan sangat penting bagi generasi muda di Konawe Selatan.
“Jika kecerdasan intelektual berpadu dengan kecerdasan spiritual, dan tempaan puasa melahirkan kecerdasan emosional, maka itulah fondasi terbaik dalam membangun generasi yang kuat. Dari sinilah cita-cita Konawe Selatan yang SETARA dapat diwujudkan,” ungkapnya.
Dalam perspektif Islam, pendidikan tidak hanya berbicara tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang adab. Bahkan para ulama menegaskan bahwa adab adalah fondasi ilmu.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)
Pesan ini menjadi pengingat bahwa pembangunan manusia harus menempatkan moral dan akhlak sebagai pondasi utama.
Saiful Akbar Kalenggo menilai bahwa dunia pendidikan di Konawe Selatan memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai tersebut sejak dini.
“Sekolah tidak hanya tempat mentransfer ilmu, tetapi juga tempat membentuk karakter. Generasi yang religius, jujur, disiplin, dan bertanggung jawab adalah investasi terbesar bagi masa depan daerah,” jelasnya.
Momentum Nuzulul Qur’an juga menjadi ajakan bagi seluruh masyarakat untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Pembangunan daerah yang berkelanjutan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau pembangunan infrastruktur, tetapi juga dari kualitas moral masyarakatnya.
Saiful Akbar Kalenggo mengajak seluruh elemen masyarakat Konawe Selatan, terutama generasi muda, untuk menjadikan Ramadan sebagai titik awal perubahan menuju masyarakat yang lebih baik.
“Ramadan adalah madrasah kehidupan. Jika kita mampu mengambil pelajaran dari bulan suci ini, maka kita tidak hanya membangun diri sendiri, tetapi juga membangun daerah dan bangsa,” katanya.
Ia menambahkan bahwa generasi yang religius, berilmu, dan berkarakter kuat akan menjadi motor utama dalam membawa Konawe Selatan menuju masa depan yang lebih maju.
“Dengan menjadikan nilai Al-Qur’an sebagai inspirasi kehidupan, kita berharap lahir generasi Konawe Selatan yang sehat, cerdas, dan sejahtera. Inilah makna sesungguhnya dari Konsel SETARA,” pungkas Saiful Akbar Kalenggo.
Momentum Nuzulul Qur’an 1447 Hijriah pun diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat bahwa pembangunan daerah sejatinya dimulai dari pembangunan manusia — manusia yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia.









