BIKASMEDIA.COM, KONAWE SELATAN – Sektor perkebunan kelapa hibrida kian memantapkan posisinya sebagai motor utama penggerak ekonomi masyarakat di Kecamatan Buke, Kabupaten Konawe Selatan, khususnya di Desa Asembu Mulya dan sekitarnya. Wilayah yang mayoritas penduduknya merupakan transmigran asal Jawa ini kini sukses menjelma menjadi sentra pertanian kelapa yang menjanjikan.
Kepala Desa Asembu Mulya, Yudi Haji Ismono, mengungkapkan bahwa wilayahnya saat ini memiliki hamparan lahan kelapa hibrida seluas sekitar 200 hektar. Dari total 300 Kepala Keluarga (KK) yang menetap di desa tersebut, hampir seluruhnya menggantungkan hidup dari komoditas ini.
“Tingkat produktivitasnya tergolong tinggi. Rata-rata setiap KK mampu menghasilkan 1,5 hingga 2,5 ton kelapa per bulan,” ujar Yudi di Balai Desa Asembu, Selasa 7 Juni 2026.
Yudi menambahkan, dengan harga pasar kelapa butiran yang saat ini berada di kisaran Rp2.600 per kilogram, hasil panen tersebut dinilai sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga hingga membiayai pendidikan anak-anak mereka.
Selain menjadi penopang finansial, sektor perkebunan ini terbukti ampuh menekan angka urbanisasi dengan membuka lapangan kerja lokal yang luas bagi pemuda dan kaum perempuan. Pemuda desa dilibatkan secara aktif dalam kelompok pengupasan kelapa dengan sistem upah tonase. Sementara itu, kaum ibu rumah tangga diberdayakan melalui jasa pencungkilan kelapa.
Melalui sistem upah harian ini, para ibu dilaporkan mampu mengantongi penghasilan tambahan berkisar antara Rp100.000 hingga Rp150.000 per hari. Pendapatan ini dinilai sangat membantu menjaga stabilitas dan ketahanan ekonomi keluarga.
Geliat ekonomi dari komoditas ini juga dirasakan nyata oleh para pelaku usaha mandiri lokal. Salah satunya adalah keluarga Muhammad Tosan, warga transmigrasi yang mengelola lahan kelapa seluas 10 hektar secara mandiri. Guna memperluas skala bisnis, selain mengandalkan hasil kebun sendiri, mereka juga bertindak sebagai pengepul yang membeli kelapa dari petani lokal dengan harga Rp2.600 per kilogram.
Di tingkat pengepul, rantai pengolahan kelapa meliputi proses pengupasan, pencungkilan, hingga pengeringan untuk diubah menjadi kopra. Produk kopra kering ini kemudian dipasarkan ke Kota Kendari dengan harga jual yang cukup menggiurkan, yakni mencapai Rp13.200 per kilogram. Kendati demikian, fluktuasi harga pasar masih menjadi bayang-bayang tantangan, mengingat harga sebelumnya sempat merosot di bawah Rp13.000.
Untuk operasional di gudang, sistem pengupahan pekerja diatur berdasarkan dua kategori:
Pekerja Gudang (Pencungkilan), dibayar berdasarkan sistem kintalan, yaitu sebesar Rp50.000 per kintal dan Pekerja Lapangan, dibayar berdasarkan sistem tonase untuk tugas memanen (menjolok) dan mengupas kelapa langsung di area kebun.
Untuk menjaga keberlanjutan produksi kelapa, Pemerintah Desa Asembu Mulya menegaskan telah merancang dan mengupayakan beberapa langkah strategis, di antaranya:
Menghadirkan distributor pupuk mandiri di desa untuk menyalurkan sekitar 140 ton pupuk subsidi dari program Kementerian Pertanian. Mengusulkan bantuan bibit kakao (cokelat) untuk lahan seluas 120 hektar guna mengoptimalkan ruang kosong di bawah tegakan pohon kelapa.
Menyiapkan pelatihan pengolahan produk turunan seperti briket tempurung dan Virgin Coconut Oil (VCO) agar petani memiliki nilai tambah dan tidak sekadar bergantung pada penjualan kopra.
Namun, realita berbeda justru dirasakan oleh sebagian petani dan pelaku usaha mandiri di lapangan. Perwakilan petani mengaku hingga kini belum pernah menerima bantuan langsung dari pemerintah, baik berupa sarana penunjang pertanian maupun subsidi pupuk. Selama ini, kebutuhan pupuk terpaksa mereka beli secara mandiri melalui kelompok tani dengan biaya swadaya.
Melihat potensi yang besar sekaligus hambatan yang ada, masyarakat bersama pemerintah desa setempat menaruh harapan besar agar pemerintah daerah maupun pusat memberikan perhatian yang lebih merata. Kebutuhan mendesak saat ini adalah kepastian pengadaan pupuk serta pestisida (racun rumput). Dukungan ini dinilai krusial untuk menjaga produktivitas kelapa serta komoditas pendamping seperti cokelat dan merica.
Di samping itu, para petani berharap stabilitas harga komoditas kelapa dapat dikawal ketat agar bisa sekokoh komoditas pangan lainnya seperti jagung atau padi. Langkah intervensi ini dinilai penting demi mewujudkan visi besar Kabupaten Konawe Selatan dalam menciptakan masyarakat yang Sehat, Cerdas, dan Sejahtera (SETARA) berbasis optimalisasi potensi lokal.









