BIKASMEDIA.COM, KONAWE SELATAN — Sebuah kisah inspiratif tentang keberanian dan ketulusan hadir dari Desa Wonua Raya, Kecamatan Baito, Kabupaten Konawe Selatan. Di tengah berbagai keterbatasan, seorang wanita muda bernama Darumi berhasil membangun dan menghidupkan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Al-Muttaqin hingga kini menjadi rumah belajar bagi lebih dari seratus anak desa.
Perjalanan ini dimulai pada tahun 2016 silam, saat Darumi masih duduk di bangku kuliah jurusan Ekonomi Islam IAIN Kendari. Berawal dari keprihatinan pribadinya melihat anak-anak di lingkungan sekitar yang mengalami krisis pengasuhan dan kekurangan wadah pendidikan Al-Qur’an di siang hari, ia tergerak untuk melangkah.
“Awalnya berangkat dari keprihatinan. Banyak orang tua mengeluh anak-anak susah ngaji dan bingung mau cari tempat ngaji siang hari untuk mengurangi main atau gadget. Awalnya saya cuma menitip dan mengajar satu anak dari kakak saya sendiri, lalu makin hari makin bertambah,”* tutur Darumi.
Dimulai dari kelas kecil beranggotakan 10 hingga 15 anak di rumah pribadinya, TPQ Al-Muttaqin kini berkembang pesat. Saat ini, tercatat sekitar 120 santri aktif belajar di bawah bimbingannya. Untuk menjaga kualitas pembelajaran, Darumi membagi para santri ke dalam empat tingkatan kelas berdasarkan jenjang usia mulai dari usia anak TK (5 tahun) hingga remaja SMA (18 tahun).
Namun, pertumbuhan jumlah santri yang pesat membawa tantangan baru keterbatasan ruang. Rumah pribadinya tak lagi sanggup menampung riuhnya semangat anak-anak belajar.
Demi menjawab kebutuhan tersebut, Darumi mengambil keputusan besar. Bangunan yang tadinya direncanakan untuk membuka usaha kios kecil-kecilan, rela ia alih fungsikan sepenuhnya menjadi tempat mengaji.
“Bangunan ini tadinya peruntukannya mau buat bikin kios kecil-kecilan. Tapi karena rumah kami sudah tidak muat menampung santri, akhirnya dialih fungsikan jadi tempat mengaji,” ungkapnya.
Bahkan karena keterbatasan tempat, sistem pembelajaran harus diatur secara bergantian. “Satu hari mengaji, satu hari tidak, karena tempatnya tidak cukup. Dalam sehari kami bagi jadi dua sampai tiga kelas,” tambahnya.
Hebatnya, seluruh kegiatan pendidikan di TPQ Al-Muttaqin berjalan secara swadaya tanpa mematok biaya atau tarif khusus kepada para wali santri. Semua anak diperbolehkan mengaji secara gratis.
Untuk membantu mengajar, Darumi memberdayakan para santri angkatan awalnya yang kini telah tumbuh dewasa. Sementara untuk operasional dan insentif pengajar, semuanya dibantu secara sukarela oleh para wali santri yang tergerak hatinya.
“Kami swadaya, bekerja sama dengan wali santri. Santri-santri angkatan awal yang dulu saya ajar, sekarang ikut membantu mengajar. Tidak ada tarif atau patokan biaya, semua mengaji free. Kalau ada orang tua yang tergerak hatinya mau membantu, kami terima dengan penuh syukur,” jelas Darumi.
Saat ditanya mengenai harapannya kepada pemerintah daerah maupun pusat, Darumi merendah. Namun, ia menyitir sebuah pesan mendalam tentang pentingnya perhatian pada pendidikan karakter dan akhlak anak di tingkat tapak.
“Harapan saya sebagai masyarakat, semoga pemerintah bisa lebih peduli dengan hal-hal kecil seperti ini. Karena bagaimanapun, akhlak dan karakter anak-anak bangsa ditentukan dari pendidikan dasar seperti ini,” terangnya dengan mata yang berkaca-kaca
Menutup perbincangan, raut haru tak bisa disembunyikan dari wajahnya saat menyampaikan rasa terima kasih kepada warga dan para orang tua yang telah memercayakan putra-putrinya.
“Terima kasih untuk semua yang sudah memercayakan putra-putrinya kepada kami. Tidak ada kata lain selain rasa syukur. Semuanya… terima kasih.”
Kisah Darumi dari Baito ini menjadi bukti nyata bahwa perubahan besar dan pembentukan akhlak generasi muda tak selalu lahir dari fasilitas mewah, melainkan dari nyala keikhlasan seorang guru yang tak pernah padam.









